javascript:void(0)

Hipotesis Cinta

Kalau sudah ngomong masalah cinta, wah bisa jadi muka yang baca artikel ini berubah. Ada yang berbunga-bunga (kayak adegan Si Ikal di toko sinar harapan-Laskar pelangi) atau ada yang malah jadi kemerah-merahan. Responnyapun pasti beragam, ada yang positif dengan hal-hal berbau cinta atau ada yang negatif. Mungkin juga salah satu faktornya adalah masalah pengalaman hidup.

Lantas lebih mendalam lagi kia bicarakan tentang cinta pertama kita. Siapa sih si dia? yang jadi cinta pertama kita?

Ketika kita kecil mungkin kita beranggapan bahwa cinta pertama kita ya cinta sama orang tua,especially ibu. Atau bahkan cinta itu tetap menjadi cinta pertama sampai saat ini. Ayo, siapa yang ga cinta sama ibu???

Ketika usia kita di awal belasan, menuju akil baligh, ada yang bilang cinta pertamanya ya salah satu teman sekelasnya yang menurutnya special. Sampai-sampai waktupun habis untuk memikirnya. Wah gawat, sebisa mungkin menunjukkan prestasi belajar hanya untuk mencuri hati si dia. ayo, ada yang ngerasa gitu.

Ada pula yang bilang bahwa cinta pertamanya adalah ketika masa sekolah SMP. Pada masa ini, hampir setiap remaja mengalami masa puber. So dimasyarakat kitapun biasanya ada pembenaran kalo remaja seusia SMP sudah pada pacaran. kurang lebih kayak gini : Wajar aja, mereka kan lagi puber….

Lantas Kalau masa SMA gimana? Nah, ini malah lebih banyak lagi yang mengatakan cinta pertama adalah ketika masa-masa SMA. Sampai diciptakan lagunya segala, ” tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah” yang dimaksud sekolah di bait lagu ini ya di SMA. Di masyarakat kita muncul fatwa, kalau anak SMA ga pacar ya ga normal.

Sebenere yang ga normal siapa ya?

Apakah cinta pertama itu yang dimaksud kayak kasus pertama, atau kayak kasus kedua dan seterusnya yang gitu-gitu aja n ga menarik buat anak yang intelek n punya daya kraesi tinggi. lha terus kalau ada yang bilang, cinta kita suci, cinta yang tanpa pamrih, cinta yang bla,bla, bla,.. tuch gimana yah? apa boong-boongan?

Pandangan Islam terhadap Cinta
Cinta dalam pandangan Islam
adalah suatu hal yang sakral. Islam adalah agama fitrah, sedang cinta
itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan
cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang
untuk dicintai dan mencintai, bahkan Rasulullan menganjurkan agar cinta
tersebut diutarakan.

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy).

Lha terus cinta pertama kita kira-kira siapa ya?…

Yupz betul, jawabanya ya Alloh Subhanahu Wata’ala. Sebelum kita dilahirkan, kita sudah jatuh cinta dengan Alloh SWT di alam ruh sana. Bahkan telah ada perjanjian dari ruh kita berupa kesaksian kepadaNya. Qooluu balla Syahidna.

kalau kita di dunia ini terpana dengan cinta-cinta yang lain, berarti kita ga setia dong. Padahal Alloh begitu mencintai kita. Bayangkan saja, kalau kita cinta sama anak putri atau lawan jenis, pasti lebih banyak penderitaannya. Terkadang baru melihat sosoknya saja sudah menjadikan hidup kita susah. Susah maka, susah tidur, susah beraktivatas karena memikirkannya. Kalau kita beranikan diri menyampaikannya, kan ada dua kemungkinan nich, diterima dan ditolak. Yang pahit dulu aja ya, kalau ditolak kayaknya dunia kita terasa kiamat, seolah-olah gunung-gunung runtuh. nah, lebih pahit lagi kalau diterima. Gimana ga pahit coba, lha wong deket banget sama maksiat n zina (mata, lisan, hati). Semuanya dilakukan atas nama cinta. Bisa-bisa syetanpun akn nampak seperti bidadari, ih naudzubillah mindzalik. belum lagi kalau ada indikasi perselingkuhan, cemburunya bukan main…..

Beda banget kalau cinta kita murni kepada Alloh SWT, tidak akan ada penderotaan, tidak akan ada kesengsaraan yang sia-sia. Kita tidak usah cemburu dengan orang yang sama-sama mencintai Alloh, tidak akan merasa dengki. Akan ditambah keimanan kita pada Nya.

Kalau dalam Fisika, Cinta kepada Alloh diibaratkan sebuah partikel yang dipancarkan pada sebuah medan gravitasi sebuah massa yang sangat ekstrim sehingga partikel itu akan selalu jatuh pada medan tersebut.

Manusia biasanya akan merasakan cintanya kepada Alloh, akan butuh di sisi Alloh, yaitu tatkala berada dalam kondisi jatuh. jatuh sakit, jatuh miskin, jatuh cinta (yang haq) dan sebagainya.

Di akhir artikel ini ada bahan perenungan kita terkait dengan cinta

1. sudahkah kita menemukan cinta yang hakiki, cinta yang sejati dalam hidup ini?
2. Sejauh mana kita mengenal-Nya, asma’ (nama)-Nya, sifat-sifat-Nya, kehendak-Nya, larangan-Nya?
3. Seringkah kita mengingat-Nya, menyebut nama-Nya melalui zikir-zikir yang panjang?
4. Seringkah kita mendekatkan diri kepada-Nya dengan sholat serta ibadah-ibadahlainnya?
5. Seringkah kita merintih, mengadu dan mengharap kepada-Nya melalui untaian doa yang keluar dari lubuk hati.
6. Sudahkah kita mengikuti kehendak-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya?
7. Apakah kita mencintai seseorang karena-Nya atau karena dorongan nafsu kita?
8. Sejauh mana kita berusaha untuk mengekang hawa nafsuku sendiri?

Comments