javascript:void(0)

Ayam Bakar Kraton?? Ada Yang Mau??? (Catatan Entrepreneurship II)

Barangkali di antara pembaca sekalian ada yang pernah dengar nama ini? Yups, untuk mahasiswa Undip setidaknya pasti pernah mendengar brand kuliner tersebut

A
 history
Sebagai seorang mahasiswa putra (bukan mahasiswi) saya adalah orang yang sangat menyenangi dunia kuliner. Saya sangat tertarik kepada hal-hal yang berupa masakan. Baik untuk mencicipi maupun mencoba resepnya bahkan menjadikannya lahan bisnis.
Dan terhitung mas bergelut saya di dunia kuliner ini kurang lebih 3 tahun, yaitu sejak tahun 2005-2008. Masa terindah saya adalah ketika saya menjadi bagian dari Ayam Bakar Kraton.

Awal Mula Cerita
Pada tahun 2005 saya adalah seorang mahasiswa yang menjalani profesi di salah satu rumah makan mahasiswa yang terletak di Perumda 99 Tembalang. Saya masih ingat betul dengan tempat tersebut. Melalui Pak Ramadhan (pemilik) saya belajar mengelola rumah makan dan lebih lagi saya belajar kesabaran. Setelah lebih dari satu semester rupanya bisnis ini kurang berkembang pesat sehingga sang pemilik memutuskan untuk menutup usahanya. 
Di saat yang bersamaan ada sekelompok mahasiswa teknik yang sedang semangat-semangatnya untuk mendirikan usaha. Kebetulan, di tembalang baru berdiri pujasera yang merupakan pusat jajanan terbesar. Kelompok itu, yang merupakan kelompok binaan dari HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda) yang terjaring melalui Program HIPMI Attracting Campus berhasil menelorkan gagasan bisnis yang kemudian mereka beri label Ayam Bakar Kraton..

Dengan berbagai kelebihan konsep bisnisnya maka mereka berhasil menjuarai program tersebut untuk wilayah jawa tengah. Saat itu masih sedikit sekali program program pengembangan kewirausahaan mahasiswa. Tidak seperti sekarang, begitu banyaknya saya sampai bingung. Dari Wirausaha Muda Mandiri, Young Entrepreneurship Award (YEA), IEC ITB, i STEP RAMP IPB, dan masih banyak lagi. Sebelum saya lanjutkan artikel ini, saya perlu menyebutkan nama-nama mereka dan sekaligus memberikan apresiasi kepada mereka yang merupaka pioneer dari Bisnis Mahasiswa di Undip yang berskala masif..
Adapun Merka adalah :
1. Luthvan (Teknik Mesin 2003), saat itu menjabat sebagai Presiden BEM Teknik
2. Ikhsanudin (Teknik Sipil 2003), saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden BEM Teknik
3. Pre Hartono(Teknik Sipil 2003), Fungsionaris FSMM dan UKM Rohis (sekarangInsani) Undip
4. Syaifullah (Teknik Industri 2003), Fungsionaris FSMM dan UKM Rohis Undip
selain mereka ber4 dalam hal operasional saya dibantu oleh 2 orang mahasiswi

1. Ratna Zakiyah (FKM 2003) Aktivis BEM FKM
2. Dinna Warisha (FKM 2003) saat itu menjabat sebagai ketua senat.

Singkat cerita dari kelompok tersebut mendapatkan dana modal, dan mereka harus menjalankan usahanya. Alhmdulillah saya dan tukang masak kemudian direkrut di ABK. Pada awalnya, saya menjalankan posisi sebagai pelyan. Mungkin sekitar 3 buylan lebih. Tetapai karena kesibukan Tim dari ABK yang sebagian besar adalah fungsinaris BEM Teknik maka saya di daulat untuk menjadi Manager operasionl. 

Dengan mengusung jargon : "Selera Bos Harga Anka Kos", Ayam Bakar Kraton berhasil menjadi Primadona di Tembalang. Sekaligus menempatka diri sebagai salah satu oulet terramai di Pujasera. Omzetnya waktu itu berkisar 600rbu per hari. Terlebih lagi citra itu kian terangkat dengan seringnya media mengekspose lantaran Ayam Bakar Kraton Masuk Sebagai Finalis yang akan di bawa ke tingkat Nasionl. Beberapa liputan sempat say kliping, antara lain dari Suara Merdeka, Wawasan, TVKU, LPM Manunggal dan lain-lain. 

Mengkaryakan Orang Kampung
Wirausaha Mahasiswa sebagaimana pada umumnya pasti mengalami pasang dan surut yang cukup identik. permasalahan utama ada pada SDM atau pekerja. Pada awalnya kami mempekerjakan beberapa mahasiswa, namun karena kesibukan kuliah, tugas dan praktkum praktis menjadikan penghalang. belum lagi orderan Catering saat itu membludak dengan volume rata-rata tiap akhir pekan 500 paket membuat saya semakin ketheteran.
Akhirnya kami sepakat untuk menacari tenaga baru dari kalangan umum (bukan mahasiswa).
Saat itu saya coba berpikiran strtegis, yaitu dengan cara mengkaryakan warga kampung saya. Saya ingin memberikan solusi terhadap masalah dikampung saya dengan membawa pemuda-pemudanya berwirausaha di lingkungan kampus.

Yang saya bawa sebagian besar adalah orang yang membantu ayah saya di sawah. 
Bisa dibayangkan, orang yang tidak pernah ngutak atik dapur kemudian menjadi seorang koki. Yang biasa bergelut dengan cangkul tiba-tiba harus termpil menggunakan alat-alat dapur. Semula saya hanya merekrut 1 orang, namun belakngan karena banyak sekali orderan dan kebutuhan terus meningkat, secara bertahap saya sampai pernah membawa 6 orang kampung. Dan secara sporadis, kalau saya pulang sering dikunjungi warga kampung untuk meminta pekerjaan mereka. 
Mereka berpikir dari pada jauh-jauh ke jakarta dan hasilnya sedikit mending ke semarang, lebih dekat dan lebih hemat pengeluaran. Dan itulah target saya Merubah persepsi warga kampung untuk tidak menggadaikan anak mereka pada Jakarta. Dan ternyata berhasil. Cerita sebelumny pernah dilakukan oleh bapak saya ketika masih muda. Beliaulah yang pertama kali ke jakarta dan mengajak warga kampung ke sana untuk berdagang. tetapi ketergantungan terhadap jakarta kian merebak dan hampir mengeliminir komponen PEMUDA di kampung tersebut.

Kita lanjutkan tentang ABK ini. Varian Produk yang kami tawarkan saat itu masih cukup khas (tidak beragam). Yaitu Ayam Bakar, Telur Bakar, Tahu Bakar, Cumi-cumi Bakar Serta Lele Bakar. Dan ada juga produk inovatif sebagai magnet antara lain Teh Getar.

Kesuksesan dalam hal marketing dan operasional ini kemudian menjadikan ruh dari perjalanan Ayam Bakar Kraton. Sampai kemudian beberapa anggota tim merekomendasikan untuk membuka cabang.

Benar-benar mirip kraton
Memang susah membayangkan kalau warung makan ini harus mirip kraton. Karena bakalan menyedot biaya yang cukup mahal. padahal modal kami cukup pasan. kata kraton ini adalah sebagai betuk filosofi kami, bahwa walaupun mahsiswa yang memiliki kantong pas pasan tetapi setidaknya perlu memilki selera terutama dalam mengkonsumsi makanan. Artinya tidak sekedar isi perut saja, yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa karena kekurangan dana. ABK berupaya menjadi solusi dengan menwarkan harag termurah saat itu. Filosofi Kraton ini pun bisa jadi merupakan cerminan dari tim secara keseluruhan. Anggota tim kalau diibartkan dalam pemerintahan jaman dulu adalah punggawa-punggawa keraton. mereka adalah ketua bem, ketua senat dan aktivis terkemuka. Belakangan, saya juga terpilih sebagai Presiden BEM FMIPA. tapi jangan salah, di sini suasana tim tidak sekaku suasana kraton... hee..3x

Akhir 2006  mendapatka amanah untuk memimpin fakultas. Saat itu mulailah periode anti klimaks dari perjalanan ayam bakar kraton. Dari Tim inti, kebanyakan sibuk dengan lahan bisnis baru mereka, yaitu SBC dan Bisnis Pertanian di Kebumen sedangakn saya sendiri lebih banyak konsentrasi di aktivitas sosisal politik kampus. Akhirnya dengan berat hati saya memutuskan untuk mundur demi menjaga eksistensi dari ABK itu sendiri. Saat itu ABK sudah mulai di handle oleh Masmudi. 

Dalam perjalanan selanjutnya ABK kemudian membuka cabang baru di SBC dan lewat kepemimpinan Masmudi ABK kembali pada tracknya sebagai pemain besar di wilayah tembalang. Namun, ABK tidak lagi ABK yang dulu. Penawaran menunyaa cukup beragam mulai dari Ayam Goreng Crispy, Ayam Kremes, Aneka sayur yang lain dan justru menu ayam bakarnya sudah tidak begitu diminati. Kebanyakan konsumen lebih tertarik dengan ayam gorengnya. Dan resep Ayam Bakar Kraton beserta sambalnya pun tidak ada yang meneruskan. Hingga saat ini saya masih apal, dan saya cukup tertantang untuk mengembalikan kejayaan ayam bakar. Karena akan sangat aneh kalau warung Ayam Bakar kraton tapi yang lebih laku Ayam Goreng...

Namun demikian saya sangat mengapresiasi kerja keras dari Masmudi. Beliau pun adalah inspirator saya sebelum saya total di dunia entrepreneurship. Beliau yang tidak begitu suka makan, dan tidak begitu memahami selera tetapi berhasil membangun usaha kuliner. Saat ini Ayam Bakar Kraton sudah memiliki 3 cabang. 2 di tembalang dan 1 di Purwokerto. Di tembalang dilengkapi dengan Delivery (jasa Antar) yang bernama Cerry yang siap memanjakan konsumen mahaiswa yang memang manja. Sedangakn yang di purwokerto berada di sekitar unsud dihandle oleh Syaiful. Cerita tentang Cerry akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Nah barangkali pembaca ada yang ingin berwisata kuliner di semarang jangan lupa mampir dan memanjakan perut anda di sini.


Comments

Post a Comment