javascript:void(0)

Pasar Kandut [cerita desaku 1]

malem ini ngelembur sendirian dileb. tiba-tiba inget perbincangan tadi selepas isya. ketika mampir di gazebo di perumahan ketileng. Ketemu dengan orang yang ternyata paham tentang kampung saya dan telah bekerja di perhutani sejak tahun 60an.
Desa saya sampai hari ini tetaplah menjadi desa, ndak seperti cerita orang-orang dahulu bahwa 10 tahun yang akan datang desa ini akan jadi kota, nyatanya orangnya masih kayak dulu...

18 tahun yang lalu, saat saya masih kelas 3 MI (setara SD) hampir setiap pagi berangkat sekolah jalan kaki. saya berangkat setiap harinya dari rumah jam 5 pagi. kadang-kadang papasan sama orang yang baru pulang dari masjid. Setiap pagi, hampir setiap pagi saya sudah di depan sekolah. membersihkan beranda dan lebih seringnya melihat keramaian sebuah pasar rakyat yang ada di depan sekolah kami. Orang kampung kami menamainya Pasar Kandut... karena setelah jam 7 biasanya mereka bergegas pergi mengandut (mengantongi) dagangannya. dan seketika itu pasar bakalan berubah jadi jalan aspal.

Pasar kandut mengingatkanku banyak hal, tentang jajanannya yang takkan terlupakan sampai hari ini. Ada rangin, yang terbuat dari tepung dan kelapa yang gurih dan berbentuk seperti kapal yang bersisisir, ada juga klepon, Cenil, bintul, dampleng, ongol,ongol, gethuk, awug-awug, terus ada juga gorengan, bakwan, kampel, dan juga ranjem.

Kampel adalah makanan yang selalu saya konsumsi setiap pagi. Kampel ini sangat praktis buat sarapan. Kampel dibikin dari potongan ketupat (yang bentuknya lunhkaran agak pipih) yang ditempelkan dengan dages dibalut tepung dan ditengahnya ada sambalnya... sehingga rasanya penuh sensasi. Apalagi ada dagesnya, makanan yang satu ini merupakan makanan paling tidak bergizi yang selalu dimakan orang kampungku. Terbuat dari bahan yang aneh dan berwarna hitam... bentuknya kayak spon tapi rasanya agak2 manis, pokoknya aneh dan dijamin ga ada gizinya..

Kalo ranjem, wuih kadang malu juga. ni makanan kalau dikampung sebelah dijamin deh kagak dimakan orang. paling buat ternak or buat ayam. Ranjem itu ampas tahu. tapi di desa saya jadi komoditas yang cukup menarik. Banyak yang bisa mengolahnya sehingga enak di makan. Menurutku sich ibu saya paling pinter. biasanya di campur dengan telur sehingga jadilah ranjem itu ngalahin rasanya berkedel yang biasanya terbuat dari kentang...

Di pasar kandut juga biasanya ada yang jualan pane... ini dia topik pembicaraan saya dengan bapak yang saya temui tadi. Orang krajan (desaku) paling pinter bikin pane. Pane itu merupakan alat penampung air yang berbentuk seperti baskom tetapi dibuat dari kayu. Butuh kayu ukuran besar untuk bisa membuat pane. Sekarang sudah ga ada lagi pane. yang ada baskom plastik yang gak ramah lingkungan..

Pasar kandut, paling rame hari minggu. karena tidak ada yang sekolah. sehingga mereka gag perlu ngandut dagangan jam 7. mereka bisa pulang sampai jam9 pagi...


Comments