javascript:void(0)

Rezim, Terorisme dan Propaganda Media

Apa yang bisa dikatakan dari penyergapan teroris baru-baru ini. Berita penyergapan menjadi headline hari ke hari. Polisi dan media begitu bersemangat memberitakan keberadaan gembong teroris yang telah lama dicari.

Sampai dengan pengembangan kasus yang demikian cepat dari Aceh sampai Pamulang serta Cawang, Cikampek, sampai Sukoharjo (red.). Satu per satu orang yang dianggap teroris ditangkap tertembak (atau ditembak) mati.

Penyergapan yang bertepatan dengan sejumlah momentum penting politik Indonesia tentu saja menimbulkan kecurigaan. Ada sekelumit jalinan peristiwa yang belum ada penjelasan. Kita tidak pernah tahu bagaimana pemberitaan sampai di sekitar kita.

Narasumber yang diterima masyarakat terbatas pada 'aktor-aktor lama'. Polisi, media, pengamat terorisme, dan beberapa orang dekat atau minimal pernah kontak langsung dengan kelompok teroris.

Selain itu fakta sosial terungkapnya persembunyian teroris di Aceh, misalnya, hampir bisa dikatakan nihil. Penyergapan yang kita saksikan di televisi lebih menyerupai drama dan panggung teater yang direncanakan. Satu hal definitif yang bisa kita dapatkan yakni tentang matinya beberapa orang akibat tebasan timah panas. Di luar itu apa yang diberitakan adalah informasi 'siap saji' yang tidak terlacak asal-usulnya.

Situasi ini berpotensi menyuburkan kecurigaan sosial. Tata integrasi masyarakat justru terancam dengan pemberitaan instan. Media yang memberitakan fakta kabur tanpa reserve justru menjadi musuh bagi ketertiban sosial.

Tulisan diambil dari opini detik.com oleh : Noory Okthariza Gedung Pusat PPSDMS NF

Coba kita ingat beberapa peristiwa dibawah ini:

1. Kasus terosrisme saat pengeboman Hotel JW Mariot 2009. Saat itu baru saja berlangsung pemilihan umum dan saat dimana masyarakat menuntut keadilan atas berbagai kecurangan. Namun, seketika itu sampai kurang lebih 2 bulan berita dialihkan dengan berita terorisme. Masyarakat disuguhkan pada ketakutan-ketakutan yang secara bertahap menggiring opini tentang dakwah islam

2. Drama Penangkapan Teroris di Temanggung. Masih teringat dibenak kita, saat itu bertepatan beberapa hari pasaca Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden... Ini lebih dramatis lagi. Malah bisa dibilang mirip sinetron. Adegan diambil dengan sangat profesional dan bisa diliput media manapun. Dan beritapun bergulir berbulan-bulan

3. Penangkapan Teroris di Aceh. Sidang DPR yang hasilnya memutuskan opsi C dimana ada 2 orang utama yang harus segera diproses tiba-tiba menguao dan mengambang begitu saja. Selama sebulan lebih, masyarakat kita disajikan dengan pemberotaan mengenai penangkapan teroris di Aceh. Pemberitaannya pun berulang-ulang, dengan nara sumber yang itu-itu melulu.

4. Penangkapan teroris sekarang. Ini seolah menjadi titik atau bahkan butir2 penghapus dari jejak kasus korupsi perpajakan dengan Susno Duadji sebagai ikonnya. Ketika dibui, Susno tidaklah mudah diliput oleh media. Dan hasilnya adalah pemberitaan tentang teroris ini yang sedang ramai seperti saat ini.

 

Comments