javascript:void(0)

Kenapa Negara kita tidak pernah menjadi negara maju?? Fisika jawabnya



Pertanyaan yang lazim dan sangat manusiawi yang selalu ditanyakan oleh kakak kelas selama masa PMB di Fisika UNDIP adalah : " Kamu masuk fisika pilihan ke berapa??". Namun dari sekitar 50an lebih mahasiswa, yang menjawab bahwa kuliahnya di fisika itu pilihan pertama paling kurang dari 10 orang. Itupun mereka-mereka yang terjaring masuk fisika lewat jalur PSSB, semacam PMDK di Undip. Sisanya menjawab bahwa mereka memilih fisika pada pilihan ke-2 atau bahkan ada yang sama sekali tidak memilih fisika, kenapa jadi kuliah di fisika itu karena dia menderita buta warna yang membuatnya tidak boleh masuk di jurusan tertentu misalnya elektro, kimia dsb, padahal secara tertulis mereka lolos ujian sehingga mereka menjadikan fisika tempat untuk bernaung.

Kenyataan ini ternyata tidak hanya terjadi di fisika Undip. Beberapa kali saya bertemu dengan mahasiswa fisika di forum-forum tingkat nasional dan regional ternyata mahasiswa fisika di tempat mereka juga sama,yang menjadikan Fisika sebagai pilihan utama boleh dibilang tidak ada. Tentu ini sangat memprihatinkan. Bisa jadi negara ini tidak kunjung menjadi maju karena keadaan tersebut. Dan uniknya penyebabnya justru karena pemerintah kurang perhatian terhadap dunia sains, terutama fisika.

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti jerman dan jepang, yang memberikan prioritas pada sains fisika begitu besar. Perhatian mereka dalam berbagai hal seperti fasilitas penunjang penelitian, dana dan apresiasi yang begitu besar. Maka lazimnya di negara-negara tersebut para peneliti betah dan menghasilkan banyak sekali inovasi, lazim pula bahwa para pemimpin mereka mengerti benar tentang perkembangan sains. Tidak seperti di negara ini. Bisa jadi seorang bupati, gubernur bahkan presiden ga mudeng yang namanya nano teknologi. Bagaimana negara kita bisa bersaing dalam iptek??

Untuk itu, marilah kita tumbuhkan kesadaran tentang pentingnya sains, agar negara ini bisa menjadi negara besar yang menjadi pemain dan bukan hanya sekedar menjadi penonton. Jangan memilih jurusan hanya karena faktor adanya ikatan dinas seperti di STAN, STIS dsb jika itu kemudian hanya motive pribadi. Karena kalau seperti itu orang pinter di indonesia cuma pada jadi akuntan, padahal negara ini juga butuh ilmuwan sehingga negara ini bisa maju.

Setelah jadi ilmuwan, dimanapun kita belajar kita harus ingat bangsa kita, terapkan semua yang dipelajari ini untuk membangun negeri. Seperti yang dilakukan oleh para pelajar china dan pakistan.

Selamat berjuang,




Comments

  1. Wew. Fisika gtulo! Selalu salut sama org yg menguasai bidang itu. Tfs.

    ReplyDelete
  2. jadi inget, anaknya temen kantorku.. dia sangat cinta fisikia, bercita2 masuk jurusan sains fisika, keinginannya mjd fisikawan, suka ikut forum2 di milis2 para fisikawan.. tp begitu masuk jenjang kuliah, ortunya tdk mengijinkan anaknya kuliah di jurusan fisika.. jadilah si anak masuk informatika..

    ReplyDelete
  3. iya mba... sebenernya banyak loh anak2 SMA yang pinter-pinter pada suka fisika. tetapi pada kenyataannya pilihan jatuh di STAN, STIS, IKIP yaitu tadi karena merasa ntar mau bekerja dimana n bagaimana..

    ReplyDelete
  4. hehe yuppsss. aku pilihan pertama Fisika lho!!
    walaupun jika nilai di rapot, lebih menjanjikan matematika..
    dimana-mana pilih Fisika.. Siip!
    akhirnya nemu teman(senior) seperjuangan!!
    bagi semangatnya donk??

    ReplyDelete
  5. yuppss. aku malah ga minat sama yang namanya kedinasan..
    mayoritas mereka memilih itu karena kurang berani menghadapi masa depan, jadi yaaaa maunya yang aman-aman sajaa.. yang setelah lulus langsung kerja.. padahal, pengemudi yang hebat tidak akan muncul ketika ia hanya mengemudi di jalan lurus yang rata.. dan seterusnya dan seterusnya...

    ReplyDelete
  6. ya itu..faktor orangtua juga berpengaruh..yg kurang wawasan..seolah2 yg menjamin masa depan cerah adalah hanya jurusan2 "basah" tersebut..(kedokteran, ekonomi, iinformatika..dll)
    dan tuh anak, dasarnya emang cerdas..disela2 kuliahnya..dia suka nyolong waktu ikutan kuliahnya anak2 fisika murni..saking cintanya sama fisika..(hmm..kasian ya sebenernya..)
    insya Alloh klo itu anakku..aku akan membiarkannya memilih sesuai minat dan kecenderungannya...

    ReplyDelete
  7. kayaknya bapak sama ibunya perlu diajak nonton film 3 idiot mbak
    terutama bagian yang akhirnya memilih jadi fotografer

    ReplyDelete
  8. iyah..ini si..kayaknya ortunya mulai luluh..melihat kecintaan anaknya sm fisika..anaknya malah bilang gini.."mah..klo kuliah informatika si gampang mah..bisa tuh ikut kursus2 ajah.." hehe..kyknya si taun depan mau ikut SPMB lagi ambil fisika...tuh anak, krn cinta ibunya juga, jadinya nurutt...

    ReplyDelete
  9. boleh juga.. nah kalau mau bermain di fisika itu saran saya ya di ITB atau di undip.
    Khusus untuk undip yang menarik kita punya spesifikasi di Bidang nano dan Plasma
    Hasilnyapun cukup membanggakan, selain itu tahun-tahun ini banyak banget dosen muda fresh dari jepang yang udah doktor... jadi enak, adik kelas kemarin dapat tawaran Student exchange ke jepang baru berangkat habis lebaran
    kalau misalnya minatnya di astronomi atau antariksa ya ke ITB, kalau geophysic ya ke UGM

    ReplyDelete
  10. kimia juga donk
    hidup sains!!!!!!!

    wuaaaa

    jadi semangaaaat thesissss!!!!!!!!

    ReplyDelete
  11. kimia yah??
    Sebenere awale aku suka banget kimia.
    Sampai jadi delegasi olympiade SMA di Pwt
    Tapi pas mau kuliah illfill sama kimia..

    ReplyDelete
  12. UM UGM ambil farmasi yang berbau kimia ga diterima
    PSSb Undip ambil Tekim juga ga masuk
    Ya udah banting setir ke fisika

    ReplyDelete
  13. ooo

    makanya kimia MIPA donk

    ReplyDelete
  14. kenapa terutama fi**ka?
    *jujur saya agak angker dengan kata itu. haha..

    ReplyDelete
  15. ya biar ngga angker emang tepat farah nulisnya fi**ka
    ga ada toh yang namanya fika angker??

    ReplyDelete

Post a Comment