javascript:void(0)

Perjalanan Jepang ke AS membuktikan Relativitas waktu [oleh-oleh walimahan Ali Khumaini]

Ahad kemarin (14/11/2010) saya beserta beberapa teman dari kampus menghadiri sebuah acara pernikahan salah satu teman kami di batang. Teman kami yang bernama Ali Khumaini inilah yang pada bulan oktober lalu mendapatkan penghargaan sebagai peneliti terbaik dunia di Amerika Serikat, beritanya dapat di lihat di sini.

Ketika kami sampai dirumahnya, ternyata beliau sedang menunaikan shalat, dan agak cukup lama sehingga kami kemudian memutuskan untuk menikmati hidangan terlebih dahulu. Padahal sebenarnya kami ini ingin sekali makan bersama beliau, sambil mengenang 5 tahun yang lalu saat kami bersama di Wisma Al-Anfaal dalam suasana ukhuwah. Apapun yang kita makan saat itu kita nikmati satu rumah seperti layaknya kaka adik dalam satu keluarga. Setelah beberapa teman selesai menyantap hidangan kemudian datanglah sosok itu, sosok yang sangat kami rindukan karena kita sudah terpisahkan cukup lama, melepas rindu dan kami diajak menuju ke ruang tamu rumah istrinya.

Beliau yang dahulu satu kos dengan saya dan menjadi pembimbing  sekaligus mentor (kebetulan kaka tingkat/senior) masih saja low profile. Dengan gaya bicara yang khas, menanyakan khabar kami dan masing-masing dari kami sangat antusias untuk berbagi cerita. Kemudian kami mengarahkan topik tentang bagaimana beliau ke Amerika. Mulai dari berapa hari disana, apa saja yang dilakukan dan ada hal yang sangat menarik di sini.

Beliau menceritakan bahwa berangkat dari Jepang pada hari Minggu jam 11 pagi, menempuh perjalanan selama 13 Jam sampai tiba di Amerika. Saat sampai di amerika waktu di sana menunjukkan jam 8 pagi. Nah kemudian kita berdiskusi panjang lebar tentang hal ini,

1. Secara defacto berdasarkan tanggal berarti pada waktu sesampainya di Amerika, Mas Ali ini umurnya justru lebih muda 3 jam. Karena harinya masih tetep hari minggu juga

2. Bumi ini berotasi dengan arah dari kiri kekanan. Sehingga ketika kita sebagai pengamat dari bumi merasakan bahwa arah cahaya matahari ini relatif dari timur ke barat. Nah, kebetulan Jepang itu berada di belahan bumi bagian timur sedangkan amerika berada di belahan bumi dibagian barat, sehingga arah pesawat dari Jepang ke AS adalah searah, namun di sini kecepatan pesawat rekativ lebih cepat dari pada rotasi bumi sehingga mengakibatkan penyinaran matahari kebelahan bumi itu relatif lebih lambat dari kecepatan pesawat tersebut. Hal ini menjadikan adanya Fenomena dimana seolah waktu terlipat.

3. Pertanyaanya kalau dari jepang, sebagai umat muslim Mas Ali telah melakukan Shalat subuh sebelumnya, perlukah beliau melaksanakan shalat-shalatnya selama diperjalanana?? Inilah yang sangat menarik dari diskusi kita, menurut beliau yang didasrkan pada pendapat ulam ada dua pendapat :

Pertama, tidak perlu melaksanakan shalat apapun selama perjalanan, karena harinya masih sama dan waktunya juga justru lebih pagi. Beberapa orang boleh mengikuti pendapat ini, tapi ada konsekwensinya. Nanti saya sampaikan diakhir yak.. ckckck

Kedua, tetep melaksanakan shalat karena perjalanan yang ditempuh sekitar 13 jam ini melewati beberapa wilayah dimana setiap wilayah memiliki jadwal shalat masing-masing yang cukup jelas apalagi di era teknologi seperti sekarang sehingga bisa tahu kapan dzuhur atau shalat yang lainnya. Pendapat ini relatif jadi acuan beberapa orang dan lebih banyak yang sepakat.

Tapi mau milih yang mana, itu diserahkan kepada kita dan tentunya hujjahnya juga harus kuat. Lah kalau milih pendapat pertama apa sih konsekwensinya?? ini dia nich yang sangat menarik. Berarti kalau misalnya bulan puasa melakuakn perjalanan dari Jepang ke Amerika ntar bakalan Puasanya ndak buka-buka, puasanya bisa sampai dua hari. ckckckck... kira-kira kuat ga yah??

Mengakhiri diskusi ini saya dan teman-teman menyampaikan barakalloh laka wabaroka 'alaika wa jam'a bainakuma fii khoir buat Mas Ali. Semoga dapat mencetak ilmuwan yang worldclass, bermanfaat buat masyarakat dan ummat.


Nb: minta dikoreksi yah kalau ada yang salah..



Comments

Post a Comment