javascript:void(0)

Cerita tentang Rumah Langit (Repost Catatan di Kompasiana)

Sepekan kemarin saya berada di Jakarta guna mengikuti rangkaian kegitan Indonesia International Communication Expo and Conference 2011 (ICC 2011). Saya sangat beruntung sekali bisa mengikuti kegiatan ini karena selain tambah penhgetahuan, saya juga bisa tambah kenalan, terutama yang saya tungg-tunggu adalah berjumpa dengan kompasianer yang ikut acara ini.

Saya sampai di Jakarta pukul 03.30 di stasiun Senen. Setelah subuh kemudian jam setengah 6 saya kemudian menuju shelter busway dan langsung ke JCC. Waktu itu saya sampai di JCC pukul 06.30, padahal acara ICC baru akan dimulai Pukul 10.00. Bisa dibayangkan suasana pagi itu seperti apa dan perasaan menunggu yang begitu lama, sehingga kiranya tidak perlu saya ceritakan.

Orang pertama yang saya temui adalah Pak Thamrin Dahlan, kebetulan kami janjian untuk ketemu karena saya sempat meminta tolong kepada beliau untuk diambilkan undangan konferensi. Senang sekali rasanya ketemu dengan bapak ini, rasanya sudah kenal lama sekali. Padahal baru waktu itu saja bisa kopdar. Bapak Thamrin kemudian mengajak saya untuk menunggu Bu Maria yang undangannya juga diambilkan oleh beliau. Saat-saat itulah kemudian saya dan bapak Thamrin berdiskusi mengenai bapak hal. Tentang aktivitas sehari-hari dan plan kedepan. Dan akhirnya sampailah pada masalah aktivitas sosial' Saya waktu itu bercerita tentang aktivitas saya di sekitar kampus, kemudian terkait anak jalanan.Beliau sangat respek dan beliau bercerita bahwa setiap kamis beliau ada siaran di D radio (DFM) dengan tema seputar aktivitas sosial kemasyarakatan. Karena pembawa acara ada agenda ke Jogja pada hari kamis besok, maka kemudian beliau diminta untuk rekaman pada hari rabu. Dari situ kemudian saya diajak untuk ikut rekaman siaran, menjadi salah satu nara sumber.

Setelah bertemu dengan kompasianer yang lain, Pak Dian kelana, Babeh Helmy, dan kompasianer lainnya kemudian mengikuti acara ICC ini pada beberapa rangkaian awal. Acara dibuka oleh Menkominfo kemudian dilanjutkan dengan talkshow dengan nara sumber para stakeholder di bidang komunikasi mulai dari pemerintah, operator dan pembicara dari luar negri. Setelah sesi tanya jawab, dilanjutkan istirahat, makan dan shalat. Setelah selesai shalat dzuhur kemudian saya diajak untuk siaran di DFM.

1307602189979298896
Di ruang konferensi, kita duduknya pada ngumpul

13076022392003529532
Makan siang bersama. Dapat kenalan baru, Pak ginting

Meninggalkan acara tersebut sebenarnya pilihan yang cukup berat juga, apalagi sesi kompasiana yang menampilkan pembicara Iskandar Zulkarnaen baru dimulai di sesi ketiga (sore), dan belum lagi beelum semua kompasianer berkumpul bersama, foto bersama dan sebagainya. Tapi saya yakin, insyaalloh bakalan ada acara lagi yang bisa mengumpulkan kita.

Dalam siaran tersebut, kami membicarakan tentang anak jalanan, dimana saya bercerita tentang salah satu proyek yang sedang kita laksanakan yang saya sebut sebagai "Rumah Langit". Proyek kami cukup sederhana, yaitu mengubah attitude (perilaku) anak jalanan yang semuala bergantung menjadi mandiri. Selama ini program-program sosial untuk anak jalanan lebih mengarah hanya kepada skill. Padahal attitude ini menjadi sangatt penting dalam kaitannya pengembangan SDM selain skill dan knowledge. Siaran itu semakin seru, saat Pak Thamrin mengemukakan fakta-fakta yang mencengangkan terkait anak jalanan. Di latar belakangi profesi beliau, selain sebagai pemerhati sosial, beliau juga pernah menjabat di BNN (Badan Narkotika Nasional) . Permasalahan penyalahgunaan narkotika sebagian tidak terlepas dari  anak-anak jalanan. Mereka yang masih kecil sudah mulai merokok akan mudah sekali untuk kesana (narkotika), kalau dikatakan rokok ini adalah gerbangnya narkoba. Sehingga butuh perhatian yang serius apalagi saat ini jumlah anak jalanan ini meningkat terutama di kota-kota besar.

Cerita tentang rumah langit adalah sebuah cerita sederhana, dimana kami komunitas mahasiswa yang pernah bersama-sama merintis suatu proyek social entrepreneurship untuk para anak jalanan. Hal ini tidaklah mudah karena anak peramsalahan anak jalanan ini begitu kompleks. Tidak bisa melakukan perubahan secara instan atau bahkan radikal. Belum lagi hal-hal yang mengelilingi mereka seperti adanya God father (bos mereka) atau adanya fenomena bahwa anak jalanan ini dijadikan mesin untuk mencari uang oleh orang tua mereka. Sehingga diperlukan strategi dan pendekatan secara khusus agar bisa berjalan dengan tidak mengusik hal-hal yang tidak mereka suka. Tahapan-tahapannyapun begitu panjang, mulai dari kita meyakinkan para stake holder (bos, orangtua, mafia), membangun kesadaran, sampai menanamkan karakter. Namun pada intinya adalah kita menginginkan timbulnya ego kemandirian tertanam pada anak-anak jalanan. Dan pada saat yang sama kita tambah skill dan pengetahuan.

Keberhasilannya bagaimana? menurut saya biarlah waktu yang akan menjawabnya. Yang penting adalah upaya itu berlangsung secara terus menerus. Pak Thamrin mengibaratkan seperti kita menanam, dari mulai menyemai benih, menyirami, dan memupuk. Harus dilakukan dengan sabar.

Sayang sekali, di sini tidak bisa bercerita secara panjang lebar. Tapi saya sangat senang sekali kemarin bisa sharing dan connecting. Bisa bertemu dengan bapak Thamrin yang baik seklai sampai sampai saya dapat tempat transit. Senang juga bisa bertemu dengan kompasianer-kompasianer lain di dunia nyata. Apapun status kita, terverivikasi, tidak terverivikasi yang penting bisa saling menambah silaturahmi. Banyak silaturahmi banyak rizki.

13076023151131508214
di studio D FM

1307602342656614454
Menyempatkan diri foto bareng mbak riri, presenter yang ramah dan suka senyum

NB : rekaman tersebut disiarkan hari kamis (9/6/2011) jam 10.

Comments