javascript:void(0)

Bukan Urusan Saya

Suatu ketika Kekhhalifahan utsmani yang waktu itu dipimpin Sultan Ahmad I baru saja mengalami sebuah kekalahan yang besar. Hal ini kemudian menjadikan sang khalifah bingung dan kecewa, maka diputuskanlah untuk mengutus orang untuk bertanya kepada seorang ulama.  Seorang ulama besar, yang sangat dipercaya oleh khalifah waktu itu adalah Syeikh Muhammad Sa’ dudin bin Hasan Khan al-Tabrizi (wafat 1008H).

Pertanyaan sang utusan khalifah tersebut berbunyi,
“ Apa kekurangan yang terdapat di Negara ini (sehingga kita mengalami kemunduran dan kekalahan daripada musuh) padahal Allah menjanjikan kememangan bagi umat Islam?”
sang syeikh menjawab dengan kalimat yang sangat sederhana dan ringkas,
“Bukan urusan saya.”
Tentu saja jawaban dari sang syeikh ini membuat heran utusan sang khalifah. Bagaimana tidak, sang syeikh yang terkenal sebagai seorang yang hebat, mampu menjawab ratusan permasalahan hukum dan fatwa melalui hafalannya tanpa merujuk kitab terlebih dahulu. Tetapi mengapa ketika ditanyakan padanya permasalahn yang begitu serius ini jawaban  beliau terkesan menyepelekan dan  acuh tidak acuh.
Mendengar apa yang disampaikan oleh sang utusan itu, terkait jawaban syeikh maka segera saja Baginda khalifah memerintahkan syeikh ini menghadap segera, lalu memarahinya. Baginda bertanya,
“ Mengapa tuan mengabaikan pertanyaanku? Beraninya tuan menjawab ‘bukan urusan saya’ untuk satu masalah yang sangat penting ini?”
Akhirnya, dengan tenang syeikh ini menjelaskan ,
“ Saya tidak mengabaikan pertanyaan tuanku. Sebaliknya saya menjawab pertanyaan tersebut dengan teliti dengan kalimat ‘Bukan urusan saya’. kalimat inilah penyebab utama kemunduran umat Islam. Jika setiap individu, mulai dari pemerintah hingga rakyat bersikap mementingkan diri sendiri, dan berkata ‘bukan urusan saya’ apabila berhadapan dengan masalah umat, maka kemunduran dan kekalahan demi kekalahan akan terus menerus menimpa umat Islam.”
Akhirnya sultan Ahmad pun malu dan meminta maaf pada syeikh tersebut.
Melalui kisah di atas kita semua dapat mengambil hikmah bahwa fenomena "bukan urusan saya" ini sedang menjangkiti rakyat negeri ini dan juga umat secara umum. Sehingga setiap masalah bukannya selesai tetapi semakin menumpuk. Masalh korupsi, masalah penegakan hukum, dan berbagai masalah terkait dengan ketidak adilan.
Jika saja sampah menumpuk diselokan di sebual lingkungan dan tak ada seorangpun yang mau membersihkan dan memulainya dan hanya bisa mengatakan "bukan urusan saya" , dan ternyata tetangganya juga berpikir yang sama maka sudah tentu lingkungan itu akan mendapatkan akibat berupa banjir yang akan mereka rasakan.
Jika saja terjadi sebuah kebakaran di suatu tempat dan tidak ada seorangpun yang mau untuk memadamkan karena berpikir  "bukan urusan saya", maka api yang telah berkobar itu bukannya akan padam tetapi kemudian akan membesar dan menjalar ke semua warga.
Jika saja terjadi bencana alam di sebuah tempat dan taka ada satupun yang mau membantu karena semua berpikir "bukan urusan saya", maka penderitaan demi penderitaan akan menimpa korban bencana tersebut dan betapa mengerikannya kita sebagai manusia yang sangat tidak peduli terhadap sesama
bukan urusan saya, jika satu orang saja berpikir ini maka bisa jadi pikiran yang sama menghinggapi orang lain di sekitar kita.
bukan urusan saya, jika ini dapat kita buang jauh-jauh maka tentu akan menjadikan energy positif kepada kita sehingga mau untuk menebar manfaat untuk sesama. Dan pada saat yang sama, jika semua orang bersama-sama membuang jauh-jauh kata " bukan urusan saya" maka akan menjadikan lingkungan lebih baik. Permasalahan akan mudah terselesaikan jika bersama-sama dikerjakan.
marilah kita hilangkan jauh jauh, kesan persaan dan sikap "bukan urusan saya"


Depok, 090112

Comments

Post a Comment