javascript:void(0)

Bagaimanakah Hukum Arisan Qurban?

Bismillahirrahmanirrahiim

Ceritanya semasa kuliah dulu, saya beserta teman-teman halaqoh yang saat itu boleh dibilang sangat kuat ukhuwahnya mempunyai suatu resolusi, semua ingin melaksanakan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim yaitu berhaji. Untuk itulah kelompok pengajian (halaqoh)  kami beri nama Alhajj1427. 1 tahun berikutnya atau pada tahun kedua, qodarulloh atas kehendak Alloh ada salah satu diantara anggota kami yang mendapatkan panggilan itu dan berhaji. Kami jadi semakin bersemangat untuk mengaji dan terus memupuk azzam kami, berhaji suatu saat nanti.

Dokumentasi Alhajj1427
Selang beberapa tahun tepatnya akhir 2010 kami harus dipisahkan oleh beberapa hal, diantaranya sebagian ada yang telah lulus dan ada juga yang harus berpindah tempat sehingga saat itu kami mencoba mencari resolusi yang tetap menghubungkan kita dalam satu ikatan. Saat itu ada yang mengusulkan untuk membuat arisan qurban, kebetulan temanya sama-sama Dzulhijjah dan saat itu juga diantara kami ada keinginan kuat untuk mengamalkan amalan yang hukumnya sunnah muakad ini. 


Akhirnya disepakati tentang metodenya, ditunjuklah siapa panitianya setiap tahun dan teknis pengumpulan dananya. Dan alhamdulillah sampai saat ini arisan tersebut masih berlangsung dan semakin mempererat silaturahmi kami. Awalnya memang ada yang tidak sepakat, karena ada perbedaan pendapat terkait hukum yang mewajibkan berqurban, yaitu mampu. Barangkali ini pula yang menjadi pertanyaan pembaca semua, Bagaimanakah Hukum Arisan Qurban?

Sebuah tulisan yang saya dapatkan dari situs http://www.konsultasisyariah.com/ tentang bagaimana hukum arisan qurban bisa menjadi rujukan. 
Ilustrasi


Arisan Qurban
Mengadakan arisan dalam rangka berkurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk kurban. Karena hakikat arisan adalah hutang. Sekelompok orang mengumpulkan sejumlah uang, kemudian diserahkan kepada yang berhak dengan cara diundi. Orang yang mendapatkan jatah giliran uang ini, hakikatnya dia telah berhutang kepada seluruh teman-temannya yang ikut arisan.

Mengenai hukum berkurban dengan berhutang, sebagian ulama ada yang menganjurkannya meskipun harus berhutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj:36). Sufyan al-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman:

لَكُمْ فِيهَا خَيْر

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (Q.s. Al Hajj:36).

(Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)

Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah akikah. Beliau menyarankan agar berhutang demi menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran. Salah satu putra Imam Ahmad, yang bernama Salih, pernah bertanya kepada beliau, “Ada seseorang yang anaknya baru lahir, namun dia tidak memiliki dana untuk aqiqah. Manakah yang lebih baik menurut Ayah: berhutang untuk aqiqah, atau mengakhirkan aqiqahnya sampai dia memiliki kemudahan untuk melaksanakannya?”

Imam Ahmad menjawab,

أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عنه عليه الصلاة والسلام: (كل غلام مرتهن بعقيقته) وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل له الخلف لأنه أحيا سنة من سننه عليه الصلاة والسلام واتبع ما جاء عنه

“Hadits yang paling jelas yang pernah kami dengar mengenai permasalahan aqiqah adalah hadits yang berkaitan dengan al-Hasan dari Samurah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.’ Aku berharap, jika dia berhutang (untuk aqiqah), agar Allah segera menggantinya, karena dia menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran yang beliau bawa.” (Tuhfatu-l Maudud, hlm. 64)

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama-ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 dan 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan,  “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (Syarhu-l Mumti’, 7/455).

Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab,  “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang yang faqir maka lebih utama melunasi hutang tersebut, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ fatawa & Risalah Ibn Utsaimin, 18/144).

Sejatinya, pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika kurban adalah untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang.

Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban adalah untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam..

Bahasan di atas dikaji oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.comKonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus







Comments

  1. Tfs abi Khansa.

    hehe ketemu disini. Mbak follow ya. Nanti follow balik *lho :)))))

    ReplyDelete

Post a Comment