javascript:void(0)

Dakwah ASI? Why Not?!

sumber gambar : ummi-online.com


Ada sebuah cerita yang bagi saya cukup menarik, sehingga saya akan coba berbagi di sini. Salah satu customer toko online kami ada orang china, dan kebetulan beliau non muslim. Sebut saja ibu Maria, bukan nama aslinya. Beliau sangat antusias dalam belajar terkait masalah urgensi ASI, dan bergabung dengan sebuah grup yang membahas tentang ASI yang kebetulan dikelola seorang ummahat yang cukup semangat kampanye pentingnya ASI.  Sangking aktifnya beliau dalam program-program yang dikelola grup tersebut beliau sering jadi panitia. Suatu ketika beliau menghubungi kami, memohon untuk menjadi sponsor kegiatan seminar/workshop terkait ASI. Dengan berapi-api beliau menyampaikan yang intinya bahwa kegiatan tersebut perlu support, "ini kan dakwah ASI , jadi butuh dukungannya nich". ujar beliau.

Saya kagum, beliau begitu semangatnya memperjuangkan dakwah ASI di tengah orang-orang yang mungkin secara prinsip beda keyakinan. Di sisi lain saya sangat prihatin dengan fenomena umat islam terutama dan utama para aktivis dakwah yang kurang tertarik dengan hal ini. Bahkan cenderung abai dengan perkara ini, sehingga anak-anak mereka berikan susu formula. Apalagi para aktivis itu adalah seorang sarjana. alangkah sangat disesalkan. Padahal perintah Alloh sudah sangat jelas di dalam Alqur'an :

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. ” (QS.Al Baqarah:233)

ASI adalah perintah Alloh dan sekaligus hak buah hati. Maka memperjuangkan ASI adalah kewajiban para ibu. Mendukung pemberian ASI eksklusif adalah kewajiban para suami dan para orang tua. Dalam sejarahnya, khalifah Umar bin khathab pernah melakukan kesalahan dengan tidak memberi perhatian kepada para ibu yang menyusui, 

Aslam Maula Umar berkata, “Pernah datang ke Madinah satu rombongan saudagar, mereka segera turun di mushalla, maka Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf, ‘Bagaimana jika malam ini kita menjaga mereka?’ Abdurrahman berkata, ‘Ya, aku setuju!’ Maka keduanya menjaga para saudagar tersebut sepanjang malam sambil shalat. Namun tiba-tiba Umar mendengar suara anak kecil menangis, segera Umar menuju tempat anak itu dan bertanya kepada ibunya, ‘Takutlah engkau kepada Allah dan berbuat baiklah dalam merawat anakmu.’ Kemudian Umar kembali ke tempatnya. Kemudian la mendengar lagi suara bayi itu dan ia mendatangi tempat itu kembali dan bertanya kepada ibunya seperti pertanyaan beliau tadi. Setelah itu Umar kembali ke tempatnya semula. Di akhir malam dia mendengar bayi tersebut menangis lagi. Umar segera mendatangi bayi itu dan berkata kepada ibunya, ‘Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk, kenapa aku mendengar anakmu menangis sepanjang malam?’ Wanita itu menjawab, ‘Hai tuan, sesungguhnya aku berusaha menyapihnya dan memalingkan perhatiannya untuk menyusu tetapi dia masih tetap ingin menyusu.’ Umar bertanya, ‘Kenapa engkau akan menyapihnya?’ Wanita itu menjawab, ‘Karena Umar hanya memberikan jatah makan terhadap anak-anak yang telah disapih saja.’ Umar bertanya kepadanya, ‘Berapa usia anakmu?’ Dia menjawab, ‘Baru beberapa bulan saja.’ Maka Umar berkata, ‘Celakalah engkau kenapa terlalu cepat engkau menyapihnya?’ Maka ketika shalat subuh bacaan beliau nyaris tidak terdengar jelas oleh para makmum disebabkan tangisnya.

Beliau berkata, ‘Celakalah engkau hai Umar berapa banyak anak-anak bayi kaum muslimin yang telah engkau bunuh.’ Setelah itu ia menyuruh salah seorang pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh orang, Janganlah kalian terlalu cepat menyapih anak-anak kalian, sebab kami akan memberikan jatah bagi setiap anak yang lahir dalam Islam.’ Umar segera menyebarkan berita ini ke seluruh daerah kekuasaannya.*) 

Sungguh betapa urgent bagi kita untuk memperjuangkan ASI, memberikan hak kepada buah hati sekaligus memenuhi apa yang Alloh perintahkan.


*) Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat, 3/302 dengan sanadnya dari jalan Abdullah bin Umar.



Comments