javascript:void(0)

Ka'bah Itu Menangis





KA’BAH ITU MENANGIS
Karya: Zak Sorga
 
Labbaik Allahumma labbaik,
Labbaik laa syariika laka labbaik
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
laa syariika lak
Labbaik Allahumma labbaik,
Labbaik laa syariika laka labbaik
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
laa syariika lak
 
Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah,
Tiada sekutu bagimu, Ya Allah aku penuhi panggilanMu
Sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan
Adalah milikmu,
Tidak ada sekutu bagimu
 
Ka’bah itu menangis, dia tertunduk malu
Airmatanya mengalir menenggelamkan shafa dan marwah
Mengalir sampai ke kali code dan ciliwung
Merambati orang-orang miskin dan lapar
memandikan para gelandangan dan buruh pabrik
menangisi para petani yang miskin tanpa tanah
meratapi para nelayan yang cacingan dililit hutang
 
Ka’bah itu menangis
Dia kesepian di kelilingi oleh mall dan sudut-sudut gelap percintaan
dia cemburu, orang-orang lebih khusyuk thawaf mengelilingi mall dan pertokoan
mereka begitu ikhlas membelanjakan hartanya untuk tetek bengek,
asesoris dan pakaian,
sementara kemiskinan terus merajalela mencengkeram
kebodohan dan penganguran menjelma jadi amarah tak berkesudahan
dan negeri-negeri Islam dikuasai oleh pemimpin yang miskin visi masa depan
 
Labbaik Allahumma labbaik,
Labbaik laa syariika laka labbaik
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
laa syariika lak
 
Ka’bah itu tertunduk malu
Dia tutup wajahnya dengan pilu
“Ya Allah, zaman apakah ini?
Aku hanya dijadikan barang antik
yang menjadi tontonan wisatawan
mereka mengucap talbiyah,
tapi hati mereka mengembara resah
Mereka thawaf mengelilingiku
Tapi hati mereka tidak bersatu
Mereka saling sikut, saling pukul,
Saling hardik, Saling caci maki di pelataranku
Ya Allah aku ingin mengadu
zaman apakah ini?
Mereka thawaf bagai zombie
Tanpa perenungan dan penghayatan hati
Mereka mengobrol kesana kemari
sambil menghitung keuntungan duniawi”
 
Labbaik Allahumma labbaik,
Labbaik laa syariika laka labbaik
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
laa syariika lak
 
Ka’bah itu terus menangis dan tertunduk malu
Dia semakin kecil
Kesepian di tengah-tengah keramaian
hotel dan mall yang tinggi menjulang
tertawa mengejeknya
“Mereka boleh thawaf berkhusuk masyuk,
setelah itu akan mereka tumpahkan kekayaannya ke pangkuanku,
bagai sesaji dizaman dahulu”
 
Ka’bah semakin cemburu, air matanya naik ke langit
dia mengadu pada Allah
“Ya Allah, setelah waktu berlalu
Apakah zaman akan selalu berulang
Berhala lata dan uza telah ditumbangkan
Dan kini telah berdiri berhala-berhala yang lain
Yang lebih canggih dan mengerikan.”
 
Labbaik Allahumma labbaik,
suara talbiah itu pun pelahan menghilang
kalah khusyuk oleh suara keramaian
 
Maret 2012

Comments