javascript:void(0)

Biarkan Cinta Tumbuh pada yang layak Dicinta [Surat Terbuka untuk Kapolri]

Pak Kapolri yang baik,
Mengenai Surat Edaran Ujaran Kebencian (hate speech) itu saya ingin mengajak Bapak berdialog dari hati ke hati.

Melarang orang mengungkapkan ketidaksukaan (hate) itu tidaklah jauh berbeda dengan memaksakan orang untuk cinta (love)

Mengenai cinta dan benci ini seorang filsuf Empedokles mengungkapkan ada dua prinsip yang mengatur perubahan-perubahan dalam alam semesta dan dua prinsip itu berlawanan satu sama lain. Kedua prinsip itu dinamakan cinta (philotes) dan benci (neikos). Cinta menggabungkan anasir-anasir dan benci menceraikannya.Kejadian kejadian di alam semesta ini kemudian dibagi menjadi empat jaman yang  didasarkan pada pengaruh kedua unsur tadi, cinta dan benci. 
Meskipun kemudian teori ini dikritisi dan disempurnakan oleh Aristoteles namun lebih pada sisi pembagian empat jaman sedangkan konsep cinta dan benci 
Empedokles dapat diterima.

Pak Kapolri, cinta dan benci, suka dan tidak suka adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi. Terkadang cinta lebih dominan dari pada benci, terkadang bergeser menuju titik keseimbangan dan terkadang benci lebih dominan dari pada cinta. 

Cinta dan benci tidak bisa dipaksakan, itulah yang diungkapkan Marah Rusli dalam karyanya, Siti Nurbaya.

Pak Kapolri,
Saya tidak suka bau Jengkol apakah berarti saya membenci jengkol? Belum tentu juga kan. Boleh jadi saya suka Jengkol dari rasanya. Namun apakah saya tidak boleh mengungkapkan ketidaksukaan saya pada bau jengkol? 

Pak Kapolri, 
benci bisa berubah menjadi cinta dan juga sebaliknya cinta bisa berubah menjadi benci.

Butuh waktu 10 tahun bagi  kami untuk bisa mencintai SBY, meskipun ada juga yang masih membenci beliau sampai tak pernah mau hadir setiap kali diundang dan sampai sekarang saat berkuasa.

Saya masih ingat betul SBY adalah presiden yang dihujat dari segala penjuru media massa dan media sosial bahkan saya sendiri termasuk orang yang sering membuat tulisan yang berisi kritik kepada beliau.

Saat memerintah, SBY tidak mendapat tempat yang baik di media massa tidak seperti presiden sekarang. SBY juga tidak mendapatkan tempat yang baik di media sosial, namun perlahan perasaan cinta berbagai kalangan tumbuh setelah beliau membuktikan selama 10 tahun. Cinta itu tumbuh

Pak Kapolri,
Surat edaran Bapak mengenai ujaran kebencian sangat bertentangan dengan semangat revolusi mental karena justru yang lahir dari SE tersebut adalah mental inlander, mental terjajah.
Banyak pihak yang menduga bahwa surat edaran tersebut lebih bertaring kepada penguasa dan para pendukungnya, sedangkan untuk mereka yang menghina islam dan menistakan islam tak tersentuh karena ada di barisan penguasa.
Semoga itu hanya asumsi saja.

Pak Kapolri,
Saya percaya bahwa ada tujuan mulia dari surat edaran tersebut yang tidak lepas dari kegelisahan Bapak terhadap banyaknya pengkritik pak presiden. 
Memang ada banyak level para pengkritik itu, tapi percayalah bahwa jika pak presiden kelak akan dibalas dengan cinta, tentu jika semua yang dikatakan beliau terbukti. 
Biarkan cinta itu tumbuh pada yang layak dicinta

Pak Kapolri,
Saya ingin mengakhiri surat ini dengan sebuah puisi

aku benci dia..
semakin aq melihatnya..
aku semakin benci dia
kenapa???

ga pernah dapat kupahami
betapa munafiknya diri ini
tertawa bersamanya.. .dalam perihnya hati ku..
dalam busuknya jiwa ku...
ah...
topeng ini kapan ntah kan terbuka..
Tanpa Hela Nafas

Ingatkan aku
Yang aku di bumi
Tanah yang kuinjak
Adalah aku
Bukan awan-gemawan
Pencipta wajah langit
Hanya sang pencinta
Di bawah bayu
Lagi kerdil

Melepaskan satu-satunya
Merpatiku terbang
Untuk dia hinggap
Di hati pujaan
Kurelakan panah
Menusuk dari semua arah

Parah tiada erti lagi
Menatap madah
Pada aksaranya
Aku kalah
Lewat lelakiku
Aku pasrah

Melihat dari jauh
Tak sekali mata kukelip
Tak sesaat nafas kuhela
Tanpa resah
Rebah nyawaku
Andai dia enggan pulang

Mana cahaya
Atlantis akan gelap
Nian suram
Walau matahari melamar
Ingin tenggelam bersama
Apa ada lagi cahaya

Aku Benci Dia
Oleh Kahlil Gibran

sumber gambar : http://www.wallpaper4me.com

Comments